Untuk beberapa tahun belakangan ini, aku orang yg sangat berhemat, karna aku harus membiayai sekolah anakku sarjana dan pasca sarjananya. Mati- matian aku berhemat sampai kebutuhan sepatukupun aku beli yg murah-murah.
Satu kali temen gerejaku Yati ngadu kalau sepatu yang dia pakai sudah rusak. Memang keadaan ekonomi Yati agak minim, kebetulan aku baru beli sepatu santai dengan harga 50.000,- aku beli 4 pasang, dg berbagai warna biar bisa gonta ganti. Tanpa ragu, aku langsung berikan sepasang kepadanya. Warna hitam. Yati sangat senang karna warnanya busa masuk kalau pake baju apapun.
Sekarang anakku sudah tamat pasca sarjananya, tak perlu lagi aku berhemat mati²an. Gegara aku pakai sepatu murah², sampai kuku jempol kakiku masuk ke daging, dan aku harus menjalani cabut kuku jempol ke dokter. Mengerikan. Dan sakitnya itu sangat sakit. Aku yang selalu tahan air mata untuk segala kepahitan hiduppun, tapi waktu dicabut kuku kaki, walaupun sudah dibius, aku tetap menjerit dan mengeluarkan air mata.
Sudah 6 bulan berlalu, kuku kaki jempolku sudah mulai tumbuh kembali, Sudah waktunya aku beli sepatu yang bagusan dikit. Jadi aku pergi ke toko sepatu ditemani kaka ku, dan ahirnya aku membeli dua pasang sepatu dengan harga 3,9 juta untuk keduanya. Jadi 1 sepatu harganya kira² 1,9 jutaan. Bukan mau sombong²an, tapi aku mau membeli reward karna sudah berhemat selama ini untuk menyekolahkan anak dan mengurus segala keperluan keluarga. Dibanding sepatu 50 ribuan, jauh lebih nyaman sepatu yang aku beli ini, dan sepatu baru ini tidak memberikan tekanan kepada kuku kakiku. Nyaman sekali... memang harga tidak pernah menipu.
Sudah beberapa bulan aku pakai sepatu ini, sudah ga kepengenan pakai sepatu murahku lagi. Mungkin untuk orang lain sepatu dengan harga segitu adalah hal biasa, tapi bagiku, itu sesuatu yg luar biasa istimewanya. sekarang level sepatuku jadi naik kelas.
Satu kali habis pulang gereja, aku main ke rumah Nani temen gerejaku yang lain. Rumahnya bersih, dan semua orang yg datang membuka sepatu untuk masuk ke dalam rumah. Setelah buka sepatu, kami bercerita ke sana, cerita ke sini tentang kehidupan.
Ga berapa lama Yati datang, ikutan ngobrol bareng. Ceritakah Yati kalau dia pernah dikasih sepatu olehku, aku hanya senyum² saja menanggapinya. Karna sudah lama ngobrol, akhirnya kami berpamitan untuk pulang.
Nani, jalan mendahului kami ke depan pintu, lalu dia langsung menuju sepatuku dan bilang: "kalau sampe sepatu ini pas, aku mo minta ya Der." Pada saat itu juga aku langsung pucat, langsung berdoa dalam hati, "Tuhan, jangan sampai sepatunya pas dikaki Nani ya Tuhan." Tau sendirikan perjuangan aku harus beli sepatu yg aga mahalan, harus nunggu bertahun² sampai anakku lulus kuliah.
Detik itu juga Tuhan langsung menjawab doaku. Sepatunya longgar sekali di kakinya.... dengan kecewa dia bilang: "yah, ga rejeki eh."
Aku teringat cerita di alkitab tentang anak muda yg sedih karna disuruh menjual semua hartanya dan membagikannya kepada orang miskin. Tuhan, sepatunya kan aku memang sedang pakai, masa aku harus kasih ke orang padahal aku sendiri butuh.....
Ada komen?