Ibuku seorang yang ceria, tidak suka marah, ramah, pintar bergaul, panjang sabar dan penyayang. Setiap saat dia adalah tempatku berbagi cerita. Cerita sehari- hariku, tentang pekerjaanku, kebutuhanku, kehidupanku. Aku tidak punya rahasia dengan ibuku.
Waktu aku kecil aku tak bisa merasakan lelahnya ibuku mengurus kami 5 anak putrinya, yang sering berantem meributkan hal sepele... dengan sabar ibuku memberi pengertian kepada kami. Ibuku adalah orang yang tidak suka marah, dan kami sangat menyayangi ibu.
Keadaanku waktu kecil tidaklah berkecukupan, tapi ibuku ingin ke 5 anaknya maju dalam segi musik. Setiap minggu, diantarnya kami ke rumah kakak ibuku yg bekerja sebagai guru piano, dibawanya kami berlima naik angkot, berjuang agar anaknya bisa main piano. Alhasil 3 dari kami yg bisa bermain piano, sedangkan aku dan satu adikku bisa dikatakan gagal, ga bisa main piano, tapi lumayan 60% berhasil.
Waktu aku duduk di bangku sekolah menengah atas, temenku mengajak aku tuk masuk klub bela diri tae kwon do. Ibuku sebenarnya kurang setuju aku masuk klub itu, tapi berhubung aku sering sakit pernafasan, akhirnya ibuku mengijinkan aku masuk, agar aku bisa lebih sehat karna berolah raga.
Tapi waktu aku minta ijin tuk mengikuti kejurnas.. ibuku dengan tegas melarangku, bahkan menyuruh aku keluar, dengan alasan bahwa selama ini aku disayang-sayang ga pernah dipukul olehnya, jadi kenapa dia harus mengijinkan orang lain untuk bebas menendang dan memukulku. heizz dasar ibuku....
Akhirnya aku disuruh les jahit...dengan terpaksa aku menjalaninya, karna uang kursus sudah dibayarkan terlebih dahulu, walaupun aku belum ditanya mau les atau tidak. aku jalani kursus itu sebisaku, ku kebut pelajarannya agar cepat tamat. Akhirnya aku bisa menjahit. Semua baju saudaraku dan ibuku aku yg jahit. Dan akupun sudah bisa cari uang jajan sendiri berkat keahlian jahitku walaupun aku masih duduk di bangku sma.
Waktu berjalan begitu cepat,... akhirnya aku lulus sma. Aku dan keempat saudaraku berambut panjang. Tapi, melihat kk ku tamat sma potong rambut, dari rambut panjangnya yang sepinggang menjadi sepanjang bahu, akhirnya aku potong rambut panjangku yg sepinggang menjadi model cepak seperti laki-laki.
lihat kelakuanku, ibuku hanya diam dan tidak mau mengajakku bicara. Dari raut wajahnya, aku tau dia kecewa, daripada memarahiku, ibuku memilih untuk tak bicara denganku. Memang sih tampangku jadi seperti laki-laki hilang semua kefemininanku walaupun aku bisa jahit. Perlu waktu mingguan tuk nenghilangkan kejengkelan hati ibuku gara-gara rambut pendekku.
ibuku selalu melindungiku, dia selalu menjagaku untuk tetap ceria. dan tetap kenyang, setiap pagi sebelum kami semua bangun, dia selalu menyiapkan sarapan dan susu coklat di meja makan untuk sarapan kami sekeluarga. aku ingat waktu aku duduk di sekolah dasar dulu, ibuku selalu membuatkan kami sarapan, kalo ga roti ples susu, kami di buatkan nasi goreng. tiap hari menu makan pagi kami kalo ga nasi goreng ya susu pake roti. itu kami alami bertahun-tahun sampai kami beranjak dewasa. tapi pengorbanan bangun pagi beliau yang aku hargai. walaupun bosan makan nasi goreng, aku tetap menyantap sarapanku yang selalu ibuku sediakan, dan aku tidak mau mengomel tentang menu yang monoton tersebut.
waktu aku sudah kerja, memiliki uang lebih. . . aku suka memberikan uang kepada ayahku. walaupun sebenarnya aku mencintai ibuku, tapi aku jarang sekali memberikan uang kepada ibuku. mungkin karena alasan ayahku yang sibuk banting tulang waktu kami kecil dulu untuk membiayai keluarga, maka aku memilih untuk memberikan uang kepada ayahku. tapi dengan keadaan itu, ibuku tak pernah berkecil hati. dia senang melihat ayahku gembira mendapat uang dari anaknya.
Ibuku the best. aku merasa ibukulah belahan jiwaku sesungguhnya.
banyak cerita tentang ibu, aku kehabisan waktu tuk menulisnya.
satu hari nanti, semoga aku bisa nyambung cerita tentang ibuku.
mom, i miss u, very much.
Ulang Tahun
Hari itu aku berumur 6 tahun. aku bangun pagi-pagi dengan ceria dan penuh semangat. Kami sekeluarga hafal semua hari lahir keluarga. dari ayah, ibu, kaka, dan adik. semua teringat jelas. itu karena ibuku yang selalu mengingatkan kami semua.
aku segera mandi, memakai baju terbaikku, lalu aku keluar rumah mengundang semua tetanggaku dengan lisan. dari rumah ke rumah aku kabarin bahwa nanti sore mereka semua diundang ke rumahku untuk merayakan ulang tahunku, dan catatan penting yang aku berikan, kalau mereka semua datang harus membawa kado ulang tahun buatku. setelah aku rasa semua sudah diundang, aku pulang menemui ibuku. "Mam, nanti sore temen-temen mau datang ke rumah merayakan ulang tahun. jam 5 sore." dengan polos aku berkata kepada ibu. ibuku diam memucat, pembantuku, ibu Urip ikut kaget mendengar perkataanku.
Keadaan kami bisa dikatakan agak memprihatinkan pada waktu itu, ibuku berjuang untuk membuat gorengan dan kue basah yang dimasukkan ke warung-warung setiap pagi, untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari, tapi ibuku tidak memarahi aku karena aku sudah mengundang anak sekampung nanti sore untuk merayakan ulang tahunku. ibuku membuat kue ala kadarnya untuk suguhan buat teman-temanku.
sore hari, menjelang jam 5 sore, aku sekali lagi keluar mengitari kampung, mengingatkan teman-temanku untuk datang dan jangan lupa untuk bawa kado.
Anak-anak mulai berdatangan ke rumahku. dengan gembira aku menyambut mereka di depan pintu untuk menerima kado yang mereka bawa. ku tumpuk di kamar semua kado. mataku berbinar-binar melihat kado yang mulai menggunung. anak-anak duduk manis di lantai yang sudah digelar tikar menunggu suguhan kue dan acara ulang tahun yang akan digelar. polos banget aku waktu itu.
ga ada badut, ga ada mc, ga ada balon hiasan, ga ada dekor di rumah. ibuku memimpin acara ulang tahunku. menyanyikan lagu ulang tahun, menceritakan cerita buat anak-anak yang datang. semua tertegun mendengar ibuku cerita, dia emang jago cerita. ibuku memberikan waktu untuk anak-anak yang mau bernyanyi. . . dalam kemeriahan pesta, ayahku pulang dari kerja kantornya. dengan bingung dia masuk dari pintu belakang, menanyakan apa yang sedang terjadi. ibuku hanya bilang Derly mengundang anak sekampung untuk merayakan hari ulang tahunnya.
Ayahku langsung pergi ke toko di pinggir jalan, di bawanya kacang garing satu bal, keripik singkong 1 bal dan green spot (minuman bersoda waktu itu, sejenis fanta) 2 krat. semua makanan langsung disuguhkan menggunakan piring makan di dapur. sedangkan green spot disuguhkan 1 botol di bagi untuk 3 anak dengan menggunakan gelas tambahan.
acara selesai. . . anak-anak pulang, bagian aku buka kado dengan semangat. ada yang isi odol, pinsil, buku tulis, sabun mandi dan hadiah-hadiah sederhana lainnya. ibuku dan ayahku tidak memarahi aku karena aku mengundang teman-temanku sekampung tanpa konfirmasi terlebih dahulu ke mereka. sekarang setelah aku dewasa, aku sadar kekonyolan yang aku buat waktu kecil itu mengganggu cash flow orang tuaku. tapi pengalaman itu ga pernah aku lupakan sampai sekarang.
ayah dan ibuku is the best.